Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Bukan Campur Kalau Sama




“Pak saya mau es campurnya 1 ya…”
            “Iya Ning, isinya apa Ning?”
            “Minta tolong Bapak pilihkan buahnya yang manis-manis saja ya”
            “Enggeh Ning”
            Rambut beruban dan kulit keriput yang menghiasi lekuk wajah, punggung yang membungkuk, dan keringat yang mengalir di tepi pelipis, terlukis di diri Nardi, seorang yang usianya sekitar 54 tahun. Kelincahannya dalam berjualan es campur mengundang banyak pengunjung di tengah sayup-sayup angin di pinggiran jalan di antara persawahan desa. Shofa tak tertinggal untuk menilik es campur ala Pak Nardi yang meskipun sudah sepuh namun mampu menghidupkan keramaian di gubuk bambu yang beliau dirikan untuk menampung dagangannya itu.
            Monggo Ning, es campurnya.”
            Ngapunten Bapak, saya tadi pesan pakai buah yang manis saja Pak.”
“Saya sudah sering melayani pembeli seperti Panjenengan, ketika akan meninggalkan gubuk saya, pasti berkomentar ‘es-nya kurang sedap Pak’. Saya hanya bilang ‘lain waktu balik lagi kesini nggeh’.” Timpal Pak Nardi dengan senyum yang menyimpul di pipinya
“Ketika mereka kembali, Bapak tidak akan melayani seperti yang mereka inginkan?”
“Iya Nak, Bapak suguhkan es campur ini memang sudah sesuai takarannya. Kalau hanya buah yang manis, pasti tidak sedap meskipun menyegarkan. Allah Maha Bijaksana, sungguh sudah ketara bagi yang mau melihat kebesaranNya, menumbuhkan pohon agar berbuah dengan hasil yang berbeda supaya buah satu yang diciptanya manis dapat membagi manisnya dengan buah yang masam, yang masam dengan yang manis saling bersatu untuk sebuah kesedapan. Tak luput juga kita manusia, dicipta berbeda untuk saling menyempurnakan kesempurnaan yang dikaruniakan Allah kepada kita hamba-hambaNya. Begitu seterusnya untuk macam buah yang lain, bermacam-macam buah bapak campurkan di dalam satu mangkok, bapak tambahkan sedikit sirup dan susu, lalu terakhir bapak tumpuk dengan es batu yang sudah dihaluskan. Monggo Ning rasakan.”
Nggeh  Bapak.” Simple Shofa menerima es campur dari Pak Nardi kemudian dengan perlahan dia menyantap es campur ala Pak Nardi.
“Kalau ndak dicampur ya bukan es campur Ning.” Lanjut Pak Nardi dengan sedikit melebarkan senyumnya.
            Membutuhkan waktu 10 menit saja Shofa mampu menyapu bersih mangkuk Pak Nardi. Kemudian dia mendekati Pak Nardi, berjualan es campur seorang diri sehingga memangku semua pekerjaan termasuk sebagai kasir ala warung restoran.

EVI
Karang Besuki F3 No.4
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar