Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Renungan



 The Sufficiency Not Destitution

By: Evi Nurjanah

“Allah itu memberikan Kekayaan dan Kecukupan Cu”
            Momo melanjutkan perjalanannya, setelah ia memastikan bahwa nenek tua disampingnya selesai bertutur kata.
Nenek tua yang mengenakan jubah putih dengan jilbab berwarna merah mencolok, sedikit kurang serasi dengan warna jubahnya. Berbadan kurus dan sedikit bungkuk, namun terlihat masih kuat ketika di usianya yang sudah renta ia masih rutin melakoni aktivitas kesehariannya sebagai pencari kayu bakar untuk kemudian dijual ke pasar kecil di dekat rumahnya. Momo bertemu nenek tua itu ketika ia sedang berjalan melewati pasar di mana sang nenek memasarkan kayu bakarnya. Mereka berjalan beriringan di pinggir jalan. Tak disangka sorban yang dikenakan Momo tersangkut salah satu kayu bakar nenek. Intonasi jalan yang dibentuk oleh Momo tentu lebih cepat dibandingkan dengan sang nenek.
“braaakkk…” akhirnya kayu bakar nenek terjatuh bersamaan dengan nenek dan Momo.
“astaghfirullah” seru sang nenek dengan suara yang sedikit bergetar.
“astaghfirullah” timpal Momo dan bergegas mendekati sang nenek.
“Nek, apakah nenek baik-baik saja?” lanjut Momo kemudian lekas mengumpilkan kayu bakar nenek itu.
“Nenek tidak apa-apa, cepat kumpulkan kayu bakar itu dan tali seperti semula, seseorang telah menungguku untuk mendapatkan kayu bakar itu.” Pinta nenek seolah beliau sudah mengenal Momo bak seorang nenek yang memerintah cucunya.
“baik Nek” dengan sedikit bingung Momo memfokuskan tangannya untuk menyatukan kayu-kayu yang tercecer itu ke sebuah tali usang yang digunakan nenek untuk mengikat kayu bakarnya.
“Fiuuuuuhhhh…” helaan nafas sang nenek seakan menusuk perasaan Momo. Perasaan kasihan atau lebih pada tak tega sangat mengganggu Momo saat ini yang tengah duduk di depan gubuk nenek.
“Terima kasih Cu.” Lanjut nenek setelah menyuguhkan secangkir air putih kepada Momo.
“Maafkan nenek Cu, nenek belum membeli bakal minuman yang pantas untuk disuguhkan, tapi nenek masih mempunyai sebotol air putih yang selesai nenek rebus tadi pagi Cu. Minumlah…” dengan tawa renyah nenek meneguk secangkir air putih yang ada digenggamannya.
“Nek, setiap hari nenek mencari kayu bakar?”
Nenek hanya mengangguk dan tersenyum.
“Nenek tinggal di gubuk ini seorang diri?”
“Suami nenek sudah tiada, anak-anak juga sudah tinggal dengan sebuah rumah baru”
“Setiap hari nenek mendapatkan hasil dari kayu bakar itu?”
“Tidak Cu, Terkadang tidak ada kayu bakar yang bisa nenek kumpulkan.”
“lalu, bagaimana dengan kebutuhan nenek, apakah semua terpenuhi Nek?”
“Tentu, selalu ada pertolongan. Orang menyangka nenek miskin. Cucu juga begitu?”
Momo hanya terdiam mendengarkan dengan seksama apa yang sang nenek haturkan.
“Nenek tidak miskin Cu, nenek merasa apa yang nenek butuhkan selalu diberi kecukupan oleh Allah. Karena benar adanya bahwa sesungguhnya Allah memberikan Kekayaan dan Kecukupan, dan satu lagi yang harus selalu diingat Cu, kegembiraan akan selalu ada di kegelapan sekalipun, asalkan kamu tidak mematikan cahaya (harapan)”
Kata-kata terakhir yang dirasa paling kuat tertancap di pikiran Momo. Menandakan betapa besarnya kasih sayang Allah terhadap semua makhluknya. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat pengikut Sang Penghulu Utusan, Nabi Muhammad SAW untuk senantiasa bersyukur atas semua keadaan yang dititahkan Allah untuk kita. Supaya kita senantiasa berfikir dan mencari hikmah untuk terus belajar menjadi insan yang berakhlak.









 Bukit Cemara Tidar, Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar