Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Cinta, Bersabarlah

By : Izzati Ruba’ie

Sore  itu, Bunda memanggilku dengan nada yang keras sekali, seolah-olah beliau sangat jengkel. Teriak-teriak memanggilku menuju dapur.Aku bergegas menemui beliau kesana. Entah mengapa suara beliau berbeda sekali, apa yang telah aku perbuat?gumamku dalam hati.

Mau sekolah atau mau nikah?tanya beliau. Oh my God, pertanyaan apa ini?aku baru saja menyelesaikan masa SMA ku dengan begitu indah. Semua terbayang dalam benakku, fikiranku terbang ke segala arah. Nada bicara beliau beda sekali dari biasanya, Bunda adalah sosok yang lembut dan penyayang, tapi kenapa saat ini tiba-tiba begitu menakutkan di depanku. Wajah beliau begitu masam, dan menatapku dengan tatapan yang begitu tajam. Aku diam seribu bahasa, tak ada jawaban. Aku berfikir atas apa yang telah salah ku perbuat. Ternyata benar, aku salah besar. Ayah tahu semua tentangku.
Ayah tahu semua tentang dia. Ayah tahu semua tentang kedekatan kami berdua. Kesalahan terbesarku adalah tanpa minta izin pada beliau berdua. Aku terus menunduk dalam diam. Hatiku begitu menyesal, betapa besarnya kesalahanku menyakiti orang yang ku hormati, menyakiti orang yang begitu mencintaiku dengan segenap pengorbanannya, dan saat ini lihatlah, aku telah mengecewakannya dengan hal yang sangat beliau larang: katanya beliau, PACARAN, tepatnya back street.

Malam ini waktu begitu lambat berjalan, hatiku dipenuhi dengan ketakutan akan menghadap ayah. Kalau sudah didepan ayah, tak mampulah ku menatap mata beliau. Hanya mampu menunduk, menjawab pertanyaan beliau dengan mengangguk atau menggeleng. Ya, ini salahku semua, dan aku harus bertanggung jawab. Sungguh , ku ingin melewati malam ini. Ayah dan Bunda duduk didepanku, bertanya panjang lebar dan memberikan petuah panjang lebar pula. Jujur, ada air mengalir di sudut mataku. Namun, apalah dayaku, semua telah terjadi dan aku harus dihukum. Hanya berusaha menguatkan hati bahwa ini bentuk cinta beliau berdua dan aku harus menjalani hukuman itu karena memang aku telah salah.
Aku mengenalnya tanpa di sengaja. Kami satu sekolah tapi tidak satu kelas. Karena memang kelas putra dan putri itu terpisah. Dia aktif sebagai pengurus Osis dan Pramuka di sekolahku. Kata teman-teman yang putra, dia pintar, mudah bergaul, dekat dengan semua guru, dan anak putri  banyak yang ngefans. Ya, kuakui dia cakep, badannya tinggi ,wajahnya selalu ceria dan tersenyum pada siapapun, ramah sekali menurutku. Itu yang aku tahu sebelum mengenalnya lebih dekat. Mungkin dia murid putra yang terpopuler waktu itu, kata taman sebangku ku, Lia. Setiap pertemuan Osis itu lah kami sering bertemu. Kebetulan aku sebagai sekretaris , jadi tak pernah absen mengikuti rapat bersama antara Osis putra dan putri. Hanya itulah awal perkenalan kami.
Tak kuduga, ternyata dia sudah lama mencari tahu tentangku.ketika kami bertemu, tak ada kata ataupun sapaan. Kami hanya diam satu sama lain. Hatiku tak pernah berani membayangkannya, bukan karena apa, karena ku tahu diri, diriku seperti apa. Dia dengan sayapnya ,aku dengan keterbatasanku, seperti katanya Om Tio dalam Novel Galaksi Kinanthi. Dia sangat jauh dariku ,sangat jauh lebih baik. Namun ,Allah mentakdirkan hal yang tak pernah terbayangkan olehku, dia mengirimkan aku sebuah surat merah jambu. Dia merangkai kata yang begitu indah yang pada intinya, ingin menjadi sahabatku selamanya. Sahabat halal katanya dia, karena kita bukan muhrim.
Awalnya, hanya pertemanan biasa, karena baru mengenalnya dan tak ada yang special yang buat hatiku berbunga-bunga. Ku akui dia sangat dewasa dalam berfikir dan bersikap. Hari- hari berlalu begitu menyenangkan, dia penuh perhatian dan banyak memberikan dukungan, banyak membantuku dalam pelajaran, dan dia sangat tahu semua tentangku, padahal tak pernah banyak ngobrol , tapi entah dari mana dia mendapatkan informasi tentangku.
Akhirnya ku mulai nyaman bersamanya, mulai membuka hati dan kita sepakat akan menjadi sahabat yang halal seperti katanya dia. Tapi, aku menceritakan bahwa ayah bilang bahwa gak boleh pacaran. Dia pun tersenyum menjawab, yang mau mengajak kamu pacaran siapa to? Katanya . pada saatnya nanti aku akan melamarmu dan menjadikanmu bidadari di rumah kita nanti, jawabnya. Hatiku melayang entah kemana, begitu bahagianya.
Hari perpisahan pun tiba, kami telah diumumkan bahwa semua murid telah lulus dengan hasil yang memuaskan. Semua teman-teman berbaur bersama, saling bertanya akan kuliah kemana atau apa target dan harapan selanjutnya. Ternyata dia akan melanjutkan kuliah di pondok kami, Ma’had Aly. Karena dulu aku pernah bilang bahwa aku suka sama lelaki yang kuliah dipondok, karena bukan hanya belajar jurusannya tapi juga tetap belajar agama sambil mengabdi. Padahal waktu itu bapaknya ingin melihat dia masuk Polisi tapi dia dengan lembut menolak dan memberikan pengertian kepada bapaknya. Akupun tambah bangga melihatnya.
Suatu hari, kami pergi jalan-jalan bersama semua teman-teman. Dan dia ada disitu juga, hari itu menambah kenangan kami berdua. Dia ingin kita akan terus bersama sampai kapanpun. Saling menjaga satu sama lain. Dan aku pun mengangguk tanda setuju. Entah dari mana ayahku mengetahui semua tentang kami. Padahal kami tak pernah bertemu berdua atau jalan berdua, pasti bersama teman-teman yang lain. Namun, ayah marah karena tak izin beliau dulu ketika menerima hatinya. Kata beliau, ketika dua orang laki perempuan sudah saling suka ,maka yang terbaik adalah menikah, sedangkan kami berdua masih sama-sama sekolah. Beliau menyuruh kami menghadap beliau dan saat itu , beliau bertanya lagi pada kami berdua, mau sekolah atau nikah?kami berdua hanya diam membisu. Kulihat betapa khawatir raut wajahnya, namun ku mengerti, banyak hal yang tersimpan dalam hatinya, namun kami hanya mampu membisu.
Sejak saat itu, dia tak berani lagi menghubungiku. Ayah telah banyak memberikan nasihat dan menegur kami. Kami faham kekhawatiran beliau dan kami memang salah. Ku hanya mampu berdoa ketika teringat semua tentangnya. Senyumnya sudah tak berani ku bayangkan. Namun ,ku yakin suatu hari nanti akan ada waktu yang indah untuk menatap senyumnya kembali. Ku mendengar kabar dari guruku bahwa dia akan berangkat ke Madinah untuk kuliah disana, dia mendapatkan beasiswa disana.Waktu itu hanya iseng saja ikut daftar bersama teman dekatnya yang akan kuliah di Madinah, ternyata mereka berdua diterima disana.  Bahagia sekali mendengarnya, namun tak mampu menyampaikan  selamat atau apapun itu. Malam terakhir dia di Indonesia, dia mengirimkan sms :
Jaga dirimu Dinda, ku akan pergi belajar memaknai hidup.Belajar memantaskan diri, agar kelak Allah berkenan menyatukan kita. Jangan pernah jauh dariNya, ku harap kau bersabar menungguku, Salam takdzim dan maaf pada Ayah dan Bunda. ”Amrullah”

Tak terasa air mata mengalir. Betapa ingin rasanya berlari dihadapannya ,walau hanya sekedar mengucapkan salam. Semoga Allah selalu melindungimu.Ku yakin Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Insyaallah, ku kan bersabar menunggumu, Semoga Allah berkenan meridhai kita. Bersama menggapai RidhaNya.





Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar