Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sederhana Berbuah Cinta

Izzati Ruba’ie


Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasulallah, Ya Rasulallah ,siapakah yang harus ku hormati ?Rasulallah menjawab : Ibumu, kemudian siapa lagi Ya Rasulallah ,Ibumu, kemudian siapa Ya Rasulallah ,Ibumu ,barulah yang  keempat Rasulallah menjawab : Bapakmu. Subahnallah,,betapa besar perhatian Rasulallah kepada kaum perempuan  khususnya Ibu.Bagaimana tidak? Ibu adalah perempuan terbaik yang dikirim Allah untuk kita yang tak pernah lelah berjuang untuk kebahagiaan anak- anak nya,  tanpa peduli bagaimana keadaannya sendiri. Perempuan yang punya cinta dan kasih sayang yang murni yang takkan pernah mampu kita menyamai cintanya. Perempuan yang selalu memberi tanpa pernah berharap kita membalasnya. Perempuan yang selalu tersenyum walau di dalam hati kadang sedang menangis. Perempuan yang paling khawatir ketika kita sakit, dan selalu mencurahkan kasih sayangnya dalam setiap keadaan. Perempuan yang paling bahagia ketika melihat kita bahagia dan sukses menggapai impian. Dan perempuan yang selalu mengalir setiap untain doanya untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.Doanya yang mampu menembus langit dan bumi ,begitu cepat di kabulkan oleh Allah Swt.    Duhai Ibunda,,untaian doamu selalu kupinta.

Terbayang sosok perempuan cantik yang sederhana nan jauh disana. Wajahnya selalu tersenyum ceria ketika bertemu anak dan cucu-cucunya. Selalu memasakkan makanan kesukaan anaknya ketika kami pulang. Selalu bertanya kapan pulang ketika kami sedang jauh darinya. Wajahnya yang begitu menyejukkan membuat setiap hati selalu rindu dengan segala tentangnya.Dialah Ibundaku, kami memanggilnya dengan panggilan “ Inaq” yang merupakan bahasa Sasak yang berarti Ibu. Namanya  selalu indah dihati, selalu terbayang dalam fikiran dan selalu hadir dalam setiap doa.

Seorang gadis cantik, yang tumbuh dalam keluarga yang sangat berkecukupan dan begitu kental nuansa agama. Ayahnya seorang saudagar sapi yang termasyhur dikotanya , yang memiliki sahabat dari berbagai macam daerah dan memiliki semangat menuntut ilmu yang begitu tinggi. Waktunya selalu diluangkan untuk mengikuti pengajian rutin di Pesantren dekat rumahnya. Pimpinan Pesantren itu adalah sahabat ayahnya sejak kecil, dan terus menjalin hubungan baik sampai mereka tua. Ibunya seorang perempuan sederhana yang begitu lembut dan penurut setiap keputusan suaminya. Maka tumbuhlah gadis cantik ini dalam keluarga yang harmonis, orang tua yang begitu perhatian, ekonomi yang melimpah dan nuansa agama yang melekat dalam jiwa anak-anaknya.
Hari-harinya selalu dihabiskan dengan  sekolah, mengaji di dekat pesantren, dan selalu membantu ibunya di dapur dan mengajak adik-adiknya bermain. Dia memiliki adik sebanyak 9 orang dan dia adalah anak yang tertua. Maka dengan keadaan itu, dia selalu berusaha menjadi kakak yang baik untuk semua adiknya.Setiap hari , ia pergi sekolah dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh,karena waktu itu orang sekolah sangat jarang sekali .Di sekolah pun dia termasuk anak yang pintar dan sering juara kelas.  Maka, wajarlah dia menjadi perempuan yang begitu di idamankan, cantik, pintar, rajin mengaji, anak orang kaya lagi. Maka sungguh besar godaannya ketika dia beranjak remaja.
Maka tibalah waktunya dia telah siap untuk membina sebuah rumah tangga. Pendidikannya telah selesai dan orang tuanya sudah memberikan nasihat bahwa sudah saatnya dia menikah. Sebenarnya banyak pemuda yang telah menyatakan cintanya namun dia hanya menjawab bahwa dia telah punya lelaki yang dipilihkan oleh Ayahnya sendiri, padahal waktu itu Ayahnya belum memiliki calon untuk dirinya.Suatu hari dia menyampaikan isi hatinya kepada ayahnya, bahwa dia mau menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. Siapapun  lelaki itu, dia akan menerima yang penting itu adalah pilihan ayahnya sendiri.Mungkin banyak yang bertanya mengapa harus pilihan ayah. Padahal yang akan menikah adalah anaknya sendiri. Maka dengan tenang dia menjawab, ayahku adalah lelaki shalih yang sangat ku kagumi, maka ku ingin pula mendapatkan suami  seperti ayah, tak mungkin rasanya jika ayah memilihkan lelaki yang tidak baik untuk anaknya. Dia selalu ingat pesan ayahnya, bahwa ketika memilih lelaki adalah yang paling penting adalah agamanya,karena hanya lelaki shalih yang mampu membimbing istri menggapai keluarga yang bahagia sampai di syurga nanti.
Mulailah ayahnya mencari pemuda untuk calon suami anaknya . Dalam benak ayahnya adalah hanya ingin melihat anaknya bersanding dengan pemuda yang shalih, dengan begitu ia akan bahagia melepas anaknya di tangan lelaki yang bertanggung jawab.
Waktu pun berlalu, masa penantian jodoh digunakan dengan sebaik-baiknya oleh gadis ini. Mengisi waktunya dengan terus berusaha memperbaiki diri dan banyak beribadah. Suatu hari pulanglah ayahnya yang baru pulang dari pesantren yang mengikuti pengajian rutin hari Jum’at. Ayahnya berkata bahwa telah menemukan seorang lelaki yang menurut ayahnya sangat tepat bersanding dengannya, namun ayahnya bertanya : Nak, apakah kamu akan siap atas  semua keadaan laki-laki ini dengan kelebihan dan kekurangannya? Gadis ini menjawab bahwa dia akan berusaha menerima apapun itu dengan ikhlas yang penting orang tuanya ridho dan bahagia.
Tibalah waktu yang ditentukan ayah gadis ini dan Kiai pesantren untuk mempertemukan dua insan  yang ingin membina sebuah mahligai rumah tangga di jalanNya. Walaupun mereka belum saling kenal satu sama lain tapi dalam hati mereka sungguh sangat mendebarkan. Berkatalah Kiai kepada gadis ini bahwa lelaki yang akan meminangmu ini adalah seorang yang sangat miskin , hidpnya sederhana, tidak punya biaya untuk sekolah, dia bisa di pesantren hanya karena mengembala kambing milik Kiai dan selalu mendampingi Kiai kemanapun beliau pergi. Maka dengan modal itulah dia bisa ikut mengaji di pesantren, dan dia bukanlah pemuda tampan, dia hanya sosok pemuda yang kurus dan hitam, namun memiliki hati dan akhlak yang luar biasa.
Gadis ini terus berdzikir kepada Allah. Memohon petunjuk dari setiap harapan dan doa. Maka apapun keputusan Allah itulah yang terbaik dalam hidup kita. Bertemulah dua insan ini di depan ayah dan Kiai. Gadis ini hanya tertunduk dengan tenang . Pandangannya hanya terus menuju ke bawah. Lisannya tak pernah berhenti mengucap ayat ayat Nya. Lelaki ini begitu terkejut dengan gadis yang ada di hadapannya. Begitu cantik dan menawan bak  Bidadari yang paling cantik sedunia, maka dia langsung menundukkan pandangannya. Ternyata gadis ini adalah impian lelaki para santri yang sering dia dengar ketika sela-sela selesai kegiatan di Pesantren. Banyak yang ingin berkenalan dengannya dan banyak yang memendam cinta padanya namun karena dia anak yang sangat pemalu dan menjaga diri , ditambah anak orang kaya, sehingga sangat sedikit lelaki yang bener-benar mau mendekatinya. Semua telah mundur sebelum mereka berperang. Maka lelaki sederhana inilah yang beruntung mendapatkannya, yang tak pernah terbayang dalam hidupnya akan bersanding dengan perempuan yang begitu indah, yang tidak hanya cantik lahirnya saja tapi jauh dari itu begitu cantik pula hatinya. Dengan berat hati, lelaki ini meminta maaf kepada Kiai bahwa dia tidak mungkin mampu meminang putrid  teman beliau, karena sungguh dia tidak punya apa- apa. Lelaki ini menjelaskan keadaan dia selama ini. Ternyata ayah gadis ini telah mengetahui semua tentang lelaki ini, dan menjawab dengan penuh kasih sayang bahwa semua akan baik- baik saja, jangan pernah khawatir, mengapa kau ragu padahal Allah selalu bersamamu, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehandak. Lelaki ini begitu bahagia dan tak menyangka bahwa ini adalah kejadian nyata, dia hanya mengira bahwa ini hanya mimpi, dia mencoba mencubit tangannya dan ternyata sakit,dia tidak mimpi. Mengucap basmallah dan memantapkan hati maka Lelaki ini berkata dia akan siap meminang gadis ini.
Bersatulah dua insan yang sedang dilanda cinta yang dilandasi karenaNya. Walaupun mereka tak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya. Mereka menikah dengan penuh bahagia dan semua orang pun ikut berbahagia. Gadis ini telah siap mendampingi suaminya dalam keadaan apapun. Dia siap hidup susah yang penting  selalu bersama. Padahal bersama orang tuanya itu dia selalu hidup berkecukupan. Bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu tidaklah kita bisa menilai dari materi saja namun bagaimana hati kita yang sesungguhnya. Selama kita ikhlas menjalaninya ,maka semua akan terasa bahagia. Begitulah mungkin cara Allah mendidik kita, cara Allah memelihara kita agar mampu menjadi hamba yang shalih- shalihah. Hidup tak akan selalu bahagia, pasti ada kalanya juga akan menderita. Mereka pun bahagia sampai tua, saat ini memiliki 8 anak dan 8 cucu. Tak pernah terbayang akan scenario Allah begitu indah.
Begitulah yang diceritakan seorang ayah kepada anak nya, lelaki sederhana yang selalu kurindukan, yang semangat juang menuntut ilmunya tak pernah luntur sampai setua sekarang ini, kesederhanaannya tak pernah berubah walau Allah telah merubah nasib nya menjadi orang yang jauh lebih dari kata cukup. Beliau selalu berkata : ayah ini tak punya apa- apa, tak ada yang mampu ayah berikan apa- apa kecuali sedikit ilmu yang ayah punya, ayah tak pinta apapun dari kalian, hanya ingin melihat anak- anak ayah menjadi anak yang shalih- shalihah, dimanapun dan kapanpun, jangan pernah jauh dari Allah.
Teringat kenangan pulang kemarin bersama Abah , menghabiskan senja di teras rumah sambil mengkaji Tafsir Al- Mishbah. Tak terasa kau telah tumbuh dewasa Nak..ucap Beliau. Semoga kelak kau bertemu lelaki shalih yang mampu membawamu menggapai ridhaNya.Air mata mengalir memendam rindu pada beliau, rindu senyumnya, rindu ketenangannya, rindu makan bersama, rindu jalan jalan sekeluarga  , rindu jamaah dengan keluarga, dan paling rindu duduk berdua bakda Ashar di teras rumah sambil bercengkrama, bercerita tentang semuanya, kenangan indah, harapan dan do’a do’a kita.
Abah ,,Ummy,,Athlubul Afwa…Ana Uhibbu ilaykuma…
Ana musytaqun jiddan ilaykuma……


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar