Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kutunggu Kau di Gerbang Ar-Rahman


Ninis Nofelia
 

Hemmm… Aku takut la, aku takut jika suatu saat nanti malah mengecewakan dan dikecewakan, toh dia juga belum tentu jodohku”, ucap Nisa mengutarakan keputusannya pada sahabat baiknya, Lala. Seminggu yang lalu, Leo menjumpai Lala untuk meminta bantuannya menyampaikan maksud hatinya untuk menjadikan Nisa sebagai kekasihnya. Leo telah lama menyimpan perasaan cinta pada Nisa, teman sekelasnya ketika SMP dulu yang kini kuliah di kampus yang sama. Nisa adalah seorang gadis berjilbab, memiliki raut wajah yang manis, dan sangat care dengan teman-temannya. Ia juga termasuk mahasiswi yang berprestasi dikampusnya. Siapa yang akan menolak? Bahkan untuk mencuri hatinya pun adalah sesuatu yang tak mudah.

“Nis, bukannya dulu kamu juga suka sama Leo? Giliran dia nembak, ehh…malah kamunya yang nolak, piye to?”, ucap Lala agak menyayangkan keputusan Nisa untuk tidak menanggapi permintaan hati Leo melalui dirinya. “Aku ngerasa belum saatnya, La. Kan kamu tau, kalo aku ga mau dipacar, maunya langsung nikah”, jawab Nisa mantap. “Oh, iya ya? sekarang udah tobat, hehe..”, ucap Lala yang suka menggodai sahabat baiknya itu.Dahulu Nisa bukanlah gadis berjilbab. Ia mulai berjilbab ketika menginjak kelas XI SMA. Ia pernah sempat pacaran dengan teman sekelasnya ketika SMA kelas X selama 4 bulan. Ia jadikan jalinan asmaranya sebagai ajang mencari partner belajar. Pacarannya ga aneh-aneh sih, ya cuma belajar bareng, smsan, telponan, dan keluar buat nge-date aja ga pernah, kecuali ada rihlah bareng temen-temen sekelas, tapi ya tetap aja statusnya pacaran. Ia memutuskan untuk menghentikan hubungan pacarannya setelah waktu banyak mengubahnya dan hidayah yang menuntunnya untuk berkewajiban menjaga dirinya. Seiring berjalannya waktu ia tiba-tiba ia teringat tentang cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Leo telah mengisi ruang di hatinya. Namun tak pernah ia ungkap kerena baginya tak mungkin perempuan yang memulai. Ketika SMP, Leo adalah sosok lelaki yang begitu mempesona bagi Nisa. Leo adalah siswa yang cerdas, baik, care, dan cool. Leo adalah tipe laki-laki yang agak sedikit cuek dengan perempuan, tidak sepeti teman-temannya yang lain yang suka sekali menggodai teman-teman perempuan di sekolah. Bisa dikatakan banyak siswi di kelas Nisa yang kepincut dengannya. Namun ada satu hal yang membuat Nisa semakin simpati pada Leo. Dia sangat rajin pergi ke mushola sekolah saat waktu sholat tiba disaat teman-teman muslim lainnya dengan ringannya meninggalkan kewajiban penting itu. Waktu itu Nisa bersekolah di SMPN yang mayoritas beragama Hindu. Maklum karena sekolah itu bertempat di provinsi Bali yang mayoritas penduduknya non Muslim. Sangat jarang ditemui muslim yang taat di usia yang mulai menginjak remaja itu. Termasuk Nisa yang sholatnya masih bolong-bolong ketika itu. Namun di hati kecilnya ia ingin sekali seperti Leo, taat dan patuh dalam menjalankan perintah agama.
“La, gimana jawabannya?”, tanya Leo pada Lala dengan nada penuh harap. Kampus dalam suasana libur tak menggoyahkan langkahnya untuk tetap tinggal beberapa hari di Jogja hanya demi menemui Lala untuk mengetahui jawaban Nisa. Universitas Gajah Mada telah menjadi saksi tempat pertemuan kembali antara Nisa dan Leo. bahkan mereka ternyata berada pada jurusan yang sama, Jurusan Kimia tepatnya. Kegiatan pratikum yang sering diadakan di tempat yang sama, seakan menumbuhkan kembali perasaan yang pernah mereka pendam, tak saling ungkapsatu sama lain.Di usianya yang ke 22 tahun ini, Leo merasa sudah cukup dewasa untuk berani menyatakan cintanya pada Nisa, meski sebenarnya masih ada rasa takut dan malu untuk menyampaikannya. Oleh karenanya ia meminta bantuan kepada sahabat Nisa yaitu Lala yang tak lain adalah teman dalam satu jurusan juga. “Maaf, Leo. Aku ga bisa banyak membantu, dia cuma nitipin surat ini buat kamu ”, ucap Lala pada Leo di depan rektorat kampus mereka tempat mereka janji untuk bertemu. Dengan hati yang kecewa ia pulang ke rumahnya di Denpasar dengan sepucuk surat biru muda di genggamannya. Ia berjanji sepanjang perjalannnya tidak akan membuka surat itu sebelum sampai di kamar tidurnya yang telah ia tinggal selama 6 semester itu. Pesawat lepas landas meninggalkan Nisa namun tidak untuk hatinya yang terus diisi gemuruh kesedihan karena jawaban Lala.
Setibanya di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, ia dijemput oleh ayahnya. Seketika berjumpa ia memeluk ayah tercintanya dengan haru karena rasa rindu. Namun Sepanjang perjalanan menuju rumah, ia tak dapat menyembunyikan wajah sedihnya dengan raut wajah yang tak biasanya. “Emmm… Kenapa ya anak ayah yang ganteng ini? Pulang-pulang kok wajahnya kusut gitu?”, tanya ayah Leo dengan senyuman menyindir sambil menyetir mobil yang melaju hampir mendekati gerbang rumah mereka. “Ga pa pa kok, Yah. Mungkin Leo Cuma kecapekkan aja, maaf ya, Yah”, jawab Leo agak loyo. “Okelah, nanti sampai rumah langsung istirahat aja soalnya bundamu lagi ke rumah budemu di Monang-maning, ada acara Aqiqoh cucunya. Mas Pras anaknya kembar lo, Le. Ga tau ntar cucu ayah gimana. Emm… ngomong-ngomong disana udah ada cewek yang bikin anak ayah ini kecantol belum? ”, goda ayah semakin membuatku ingin segera sampai ke kamar untuk membuka surat biru muda itu. “Doakan saja, Yah! Semoga setelah Leo kerja nanti bisa langsung bawa menantu sholehah buat ayah ma bunda”, jawab Leo sekenanya.
Brukk…”, Leo menghempaskan tubuhnya ke bednya yang sudah hampir 3 tahun tak ia gunakan. Maklum saja ia anak lelaki yang jarang pulang ke rumah karena ia juga seorang aktivis dikampusnya, sering melanglang-buana hampir ke seluruh provinsi di Indonesia untuk  mewakili kampusnya dalam berbagai kegiatan sosial. Ia hanya pulang di saat lebaran saja, itu saja hanya 2 hari di rumah. Namun liburan kali benar-benar ia ingin istirahat dengan khidmat di rumahnya, menikmati liburan bersama keluarga tercintameski hatinya kini sedang mendung dirundung duka karena cinta. Seusai sholat ashar, ia merasa telah siap untuk membuka surat biru muda itu. “Kreek..kreek…” perlahan ia membuka surat itu,



Assalamualaikum, wr, wb
Untuk Mas Leo
dimanapun kamu berada sekarang.

Maafkan aku karena memberi jawaban melalui surat ini. Karena mungkin aku tak mampu berkata bila berhadapan langsung denganmu. Terimakasih atas perasaan cinta yang kau sampaikan melalui Lala tempo hari.Maafkan aku, karena aku tidak bisa untuk menjadi pacarmu dan insyaallah selamanya tak akan kau temui sosok pacar dalam diriku. Aku takut mengecewakan dan dikecewakan. Aku takut mengecewakan Tuhanku dan aku takut dikecewakan oleh nafsuku. Allah telah menjagaku dengan jilbab ini dan aku berusaha menjaga diriku melalui jilbab ini, dan semoga Allah meridhoi niat suci ini sehingga aku bisa istiqomah di jalan-Nya. Jujur, aku memang suka padamu, tapi tidak dengan cara seperti ini. Dulu awal mula aku jatuh hati padamu karena ketaatanmu pada Tuhanmu dalam menjaga sholatmu. Apakah kau akan meninggalkan keteguhanmu dalam menjaga ketentuan Robbmu. Jikalau kau benar-benar mencintaiku karena Allah semata, datanglah ke rumahku, temui orang tuaku, dan bersumpahlah di depan penghulu, mari kita bangun cinta di atas pondasi yang suci untuk mengharap ridha Illahi.Dan bawalah hafalan Ar-Rahman untuk meminangku…

Wassalamualaikum, wr, wb…
Tak terasa air mata Leo meleleh penuh haru, ia merasa berdosa telah mengajaknya untuk menjalin hubungan dengan jalan berpacaran. Rasa kagumnya semakin besar pada Nisa. Lega sekali hatinya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Mulai saat itu ia berjanji untuk lebih baik lagi memperbaiki ibadahnya dan lebih giat belajarnya. Ia berusaha untuk segera menyelesaikan skripsinyadengan sebaik mungkin dan ingin segera wisuda serta berusaha bersegera untuk menjadi lelaki yang mapan. Setiap harinya ia semakin rajin untuk bertahajjud dan bermunajat. Seusai sholat ia juga rajin membaca Al-Quran dan menghafal surah Ar-Rahman. Dan tak disangka dalam waktu sebulan ia sudah fasih menghafal surah Ar-Rahman beserta artinya.
“Ya Allah, aku ingin menjemput bidadariku dengan sifat Arrahman-Mu. Ya Allah, jagalah hatiku, sucikan niatku. Jadikan hijrahku bukan karena wanita yang ingin kunikahi, namun jadikanlah ini semua semata-mata sebagai alasan untuk lebih mencintai-Mu, kelak kumpulkanlah kami dalam naungan Firdaus-Mu…”, lantunan do’a senantiasa mengalir menghiasi kedua telapak tangan Leo. Semoga takdir membawa akhir kisah ini pada samudra kebahagiaan.
Reserved: Malang,      19 November 2013
Ninis Nofelia

***

Malang, 19 November 2013


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar