Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Bermodal Sebait Syair

By : Izzati Ruba'ie 


Syair itu masih selalu terngiang dalam benakku.Ketika Ustadz Saefuddin,mengajarkan kami kitab Ta’lim Muta’lim waktu kelas 2 Aliyah dulu.Syair itu menjadi senjata ampuhku menghadapi ayah dan bunda ketika minta izin untuk kuliah di luar daerah.Aku sangat berharap selepas di Aliyah ,aku akan kuliah di luar daerah.Sungguh itu salah satu cita-citaku dari dulu,jauh dari orang tua,hidup mandiri,gak boleh manja lagi,dan tentunya banyak pengalaman hidup yang pahit maupun manis
yang akan ku rasakan.Aku adalah anak ke tujuh dari delapan bersaudara,dan anak perempuan paling kecil.Pastinya aku sangat manja pada semua kakak-kakakku,dan ayah dan bunda pun selalu mengikuti semua kemauanku.Dan alhamdullillah,prestasiku selalu yang terbaik di kelas,sering kali mengikuti berbagai lomba yang memang aku minati,tentunya ayah dan bunda sangat bahagia,tidak heran beliau selalu memanjakanku.
Tiba saatnya aku akan memasuki jenjang kuliah.Segala persiapan ujian aku persiapkan dengan baik.Ayah dan bunda juga memintaku untuk ikut bimbingan belajar terbaik di kotaku.Semua permintaan beliau selalu aku turuti,dulu ketika aku akan naik kelas 2 Aliyah,beliau memintaku untuk mengambil jurusan IPA,dan itu aku turuti.Padahal sebenarnya dalam hati yang terdalam,aku sangat membenci pelajaran berhitung,tapi demi beliau berdua,semua akan ku lakukan.Ayah dan bunda adalah segalanya dalam hidupku.Semua perintah beliau selalu aku turuti,walau tak sejalan dengan hatiku yang sebenarnya,karena denga ridha beliau aku akan menjalaninya dengan baik dan mudah dengan bantuan Allah tentunya.
Ayah dan bunda mengizinkan aku untuk memilih kampus di luar daerah.Tentunya harus kampus islam dan tinggal di pondok,dan alhamdullah aku juga setuju.Itupun setelah melewati perdebatan yang sangat panjang,dan aku mengutarakan syair yang pernah diajarkan Ustadz Saefuddin di pondok dulu,syair itu adalah syair Imam Syafi’i :
 “Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal di kampung halaman,merantaulah,,,!!!!tinggalkan negerimu,,,niscaya kau akan mendapatkan ganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.Berlelah-lelahlah menuntut ilmu,manisnya hidup akan kita rasakan setalah adanya perjuangan”.
Bunda sempat berkaca-kaca memandangku,sedih bahagianya aku tidak faham,yang pasti beliau kelihatan sangat bangga ketika ku mengeluarkan syair itu.Akhirnya ayah dan bunda mengizinkan dengan syarat yang diatas,dan satu lagi permintaan beliau.Mengambil jurusan sains,,,,Oh My God!!!!!!!.Tapi ketika itu aku mengiyakan,karena aku tak sampai hati akan berdebat panjang lagi.Beliau sudah menuruti permintaanku,dan akupun memenuhi permintaan beliau.
Semua berjalan lancar,alhamdulillah aku diterima di kampus impianku dan jurusan impian ayah dan bunda.Hari keberangkatanku semakin dekat.Ayah dan bunda semakin memanjakanku dengan segala kemauanku yang selalu beliau tanyakan padaku.Bunda selalu bilang sebelum masak :”pengen makan apa sekarang sayang”?????sampai-sampai adikku yang kecil sering cemberut lihat bunda memperlakukan aku seperti itu.Tapi maklumlah,bentar lagi aku juga akan meninggalkan rumah.Ayah dan bunda telah mempersiapkan semuanya juga dengan baik.Malam terakhir dirumah,ayah dan bunda sengaja mengundang teman-teman masa kecilku dirumah dan teman-teman terdekat dipondok dulu,malam perpisahan katanya beliau.Sahabat-sahabat baikku datang semua,teman-teman juga datang,kami ngaji dan doa bersama.Naef ,sahabat kecilku sampai tak mau pulang malam itu,kalau saja dia cewek,dia akan menginap bersama sahabat cewek yang lain.Tapi sayang,Naef cowok,heheheheh!!!!!!!.Sahabat dan teman-temanku berpamitan,kami saling menasehati tuk saling mengingat satu sama lain.Bahwa kita adalah sahabat dan teman selamanya,walaupun jarak memisahkan kita ,namun hati seorang sahabat selalu dekat.oh sahabatku semua,kalian semua sahabatku yang baik,aku sayang kalian.
Pagi ini aku akan meninggalkan Pulau Lombok tercinta,meninggalkan ayah bunda dan keluarga ,demi sebuah perjuangan menggapai cita-cita.Ayah dan bunda mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang,juga memberikan petuah-petuah indah yang harus aku jaga dan amalkan.Bagaimanapun aku harus siap dengan segala resiko dan tantangan yang ada,karena memang ini adalah keputusanku untuk berpisah sementara dengan mereka.Beliau berpesan: “Tetaplah menjadi kebanggan ayah dan bunda,menjadi anak sholehah,yang patuh pada Allah dan RasulNya,patuh pada agama dan orang tua,tetap jaga akhlak,jaga diri baik-baik,jaga kesehatan,dan tetap belajar yang rajin,fokus hanya untuk menuntut ilmu,bukan yang lain”.Aku hanya mengangguk penuh kesedihan,betapa perpisahan sangat menusuk dalam hati.Walaupun ini hanya sementara ,tapi aku tak bisa pungkiri,bahwa aku sangat membutuhkan kalian setiap saat.Aku menghapus air mataku yang jatuh.Aku tak ingin bunda melihat mata ini menangis,tentu akan membuat beliau akan berat melepaskan aku.Aku akan sangat merindukan kalian semua.
Hari-hari ku jalani berjalan lancar,semua baik-baik saja.Aku sudah mulai betah dan terbiasa dengan semua aktivitas baruku disini.Keluarga juga selalu menghubungiku,dan kini saatnya bahwa aku harus berusaha berubah menjadi lebih baik.Merubah kebiasaan buruk dirumah dulu,dan aku ingin mengamalkan syair yang dulu ku sampaikan pada ayah dan bunda,bahwa aku harus berjuang menuntut ilmu.Dan disinilah kurasakan bahwa hidup ini tak mudah.Aku hanya seorang pelajar dan tugasku adalah belajar.Itu adalah amanat orang tua,harus fokus menuntut ilmu,bukan untuk hal yang lain.Semua ku jalani terasa berat,karena jujur duniaku saat ini bukanlah kemauanku yang sebenarnya,namun karena ayah dan bunda meminta.Ketika itu aku mulai bermalas-malasan mengikuti kuliah yang sangat memusingkan,semua tugas yang diberikan dosen aku tidak mengerjakannya,dan lengkaplah bahwa aku hanya belajar pelajaran yang aku senangi dan hasilnya aku tak lulus dalam mata kuliah yang itu adalah jurusanku sendiri.Aku mengecewakan ayah dan bunda,dan aku sangat takut menerima kenyataan ini bahwa aku sudah berubah.Aku tak lagi membuat ayah dan bunda bangga,dan aku tak ingin itu terjadi.Aku sangat kesulitan sekali mengahadapi semua pelajaran yang sungguh sangat tidak menyenangkan,namun seorang kakak seniorku selalu memberikan semangat dan selalu membantu semua kesulitanku.Namun,ku kan selalu bertahan demi ayah dan bunda,karena betapa beliau sangat mengharapkan aku pada jurusan ini.
Hari-hari ku jalani dengan penuh perjuangan,bagaimanapun aku tak boleh menyerah.Sempat terbayang dalam benakku akan pindah ke jurusan yang memang aku inginkan.Namun,semua dosenku melarang,dan teman-temanku juga tak ada yang mendukung,mereka semua akan terus mempertahankan aku untuk tetap bertahan dalam jurusan ini.Akhirnya,aku sadar,betapa mereka sangat berharap dan yakin kalau aku pasti bisa.Suatu hari aku menceritakan semua kegalauan yang telah kuhadapi pada guru Aliyah di Pondok,dan beliau menasehatiku,bahwa aku harus bertahan,turuti apa keinginan orang tua,jangan pernah mamatahkan harapan beliau,karena sungguh,Allah akan mempermudah segalanya,ridha Allah terletak pada ridha orang tua.Sejak itu aku terus memperbaiki niat,bahwa semuanya harus dijalani dengan penuh keikhlasan dan kita harus ingat bahwa tidak semua yang kita senangi itu baik dan disenangi oleh Allah,begitu juga sebaliknya apa yang tidak kita senangi belum tentu juga gak baik dan tidak disenangi oleh Allah,boleh jadi apa yang kalian senangi itu tidak baik bagi kalian dan boleh jadi apa yang kalian tidak senangi itu baik bagi kalian.Itu yang selalu terngiang dalam benakku,dan segera ku tancapkan kembali bahwa perjuangan tak boleh putus,syair yang dulu membakar semangatku untuk meninggalkan kampung halaman juga harus benar-benar diamalkan.Manisnya kehidupan akan kita rasakan setelah melewati sebuah perjuangan.Dan kini ku rasakan hari-hari ini menjadi lebih indah dengan penuh syukur bahwa Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan tidak mempupuskan harapan ayah dan bunda dirumah.
 “Gapailah cita-cita kalian setinggi bintang di langit,berusahalah dengan penuh usaha dan doa,jadikan dirimu rendah hati walau sudah mempunyai segalanya,kebahagiaan hakiki bukanlah karena materi yang kita punya,namun kebahagiaan hakiki hanya bisa dirasakan ketika kita mampu bersyukur pada apa yang ada,apa yang Allah berikan pada kita”.Pesan Pak Kiai diPondokku dulu,beliau datang dalam mimpiku,betapa ku sangat bersyukur bahwa masih banyak orang yang sangat peduli dan sayang padaku.Aku menitikkan air mata,,,,,Ya Robb,,,,syukur hamba atas segala nikmat yang indah ini.

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar