Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Awal yang indah

Izzati Ruba’ie

Suasana di kelas 2 IPA terlihat begitu antusias pagi itu. Kepala sekolah kami tak biasanya pagi-pagi datang ke kelas. Ternyata beliau akan mengumumkan agenda lomba yang akan dilaksanakan di kantor Bupati Lombok Barat. Kami pun mendengarkan dengan seksama. Diantara lomba yang akan kami ikuti antara lain, Lomba debat, Lomba pidato bahasa Arab dan Inggris, Lomba baca kitab, Lomba kaligrafi, dan lomba menulis cerpen. Beberapa dari teman kami sudah bersorak kegirangan karena akan mengikuti lomba tersebut, ternyata kata Bapak kepala sekolah, semuanya akan diseleksi oleh Ustadz dan Ustadzah kami, karena acara ini akan mengundang semua pondok pesantren di Lombok Barat.

Dua hari setelah pengumuman itu,loloslah beberapa nama yang akan maju mewakili sekolah kami di acara lomba nanti. Dan ternyata tanpa terduga , aku  masuk dalam lomba cerpen. Padahal kemarin aku  ingin mengikuti lomba pidato Bahasa Arab dan aku  sudah ikut tes dalam lomba tersebut, ternyata  aku  harus ikut lomba menulis cerpen. Hari itu juga  aku menghadap Bapak kepala sekolah untuk menanyakan hal ini, dan beliau menjawab bahwa aku  harus mengikuti lomba menulis cerpen  , lomba pidato Bahasa Arab akan diikuti oleh temanku   namanya Abdiyah Addhoifah.

Mulailah teman-teman dilatih dan mempersiapkan segala yang akan ditampilkan pada saat lomba nanti. Sedangkan aku hanya duduk di depan Komputer, belajar merangkai kata yang tida pernah saya bayangkan selama ini. Baru kali ini mengikuti lomba menulis dan tak pernah berpengalaman dalam hal ini. Biasanya aku selalu mengikuti lomba pidato karena aku  sangat senang tampil didepan. Namun entah kenapa, kepala sekolah dan guru guru memutuskan bahwa harus mengikutinya. Akhirnya dengan tekad yang kuat walaupun belum bisa apa-apa aku  mulai mencobanya.

Setiap hari, aku  selalu bertanya kepada guru kami guru Bahasa Indonesia, Ustadz Nuruddin, beliau dengan sabar selalu menjawab pertanyaanku dan memberikan masukan tentang cerpen yang akan aku buat nanti. Ternyata tema-nya belum ditentukan dan akan diberikan tema-nya setelah diundi di Kantor Bupati nantinya. Tapi beliau selalu memberikan semangat bahwa aku pasti bisa menyelesaikan tulisan cerpenku  nanti.

      Seminggu telah berlalu dengan mempersiapkan segala yang harus kami siapkan. Guru kami begitu mendukung segala sesuatunya agar kami bisa tampil yang terbaik. Beliau selalu mendukung bahwa semua guru selalu mendoakan untuk kebaikan kami semua.Hari itu kami berangkat ke Kantor Bupati Lombok Barat.Semua teman-teman sudah siap dan optimis akan memberikan penampilan terbaik,begitupun aku. Harus memberikan karya terbaik nantinya.Waktu yang diberikan adalah 12 jam untuk menulis cerpen remaja yang bertemakan pendidikan dan karya anak bangsa. Semua teman-teman telah berpisah menuju ruangan lomba masing-masing. Rungan lomba menulis cerpen  di aula yang sangat luas dan dipenuhi oleh peserta lainnya dari berbagai sekolah.hari itu kali pertama dalam hidupku menulis sebuah cerpen dengan penuh semangat. Dengan memantapkan hati dan menyebut namaNya, berkarya sebaik mungkin untuk sekolah tercinta.

Akhirnya selesailah waktu yang diberikan dan semua peserta di persilahkan untuk istirahat untuk sholat dan makan siang. Diluar ruangan, guru kami telah menunggu kami tuk berkumpul bersama teman-teman yang lain. Seminggu lagi kami akan diminta berkumpul kembali disini untuk mengikuti acara penutupan lomba yang diikuti dengan pengumuman lomba dan pemberian hadiah. setelah sholat dan makan siang,kamipun bergegas kembali ke sekolah.

Tak  pernah terbayangkan bahwa saya berdiri diantara para juara yang lain. Ternyata saya lolos dan menempati juara 2. Tak terasa Pak Bupati sedang mengusap kepalaku memberikan piala. Jujur, saya tak pernah terbayang apa-apa karena memang bukan keinginan saya yang pertama, namun Bapak kepala skeolah yang menetukan bahwa saya harus mengikutinya. Padahal saya rasa,masih banyak peserta lain yang jauh lebih indah karyanya. Saya sempat minder kemarin karena baru pertama kali mengikuti lomba menulis, tapi karena semua mendukung, akhirnya saya mantap memulainya.
Setiba disekolah.semua guru-guru tersenyum bahagia menyambutku. Ku lihat Abuya duduk di sofa pojok kantor, beliau tersenyum indah dan menyejukkan sekali. Beliau melambaikan tangan isyarat untuk menemui beliau, akupun menghampiri beliau, duduk di samping beliau. Sambil mengusap kepalaku, beliau berkata, Barokallah Nak, semoga Allah selalu menyayangimu, terkadang apa yang tidak kita suka ternyata itu yang baik menurutNya, jangan pernah menyerah walau terkadang itu sangat sulit, cukup sabarkan dirimu, insyaallah semuanya kan baik-baik saja.
Kau tahu, hal terindah yang ku rasakan adalah bisa merasakan lembutnya tangan beliau mengusap kepalaku. Hal terindah adalah betapa tulus cinta  kasih sayang beliau terhadap kami. Hal terindah adalah selalu bisa melihat beliau tersenyum dengan selalu taat dengan apa yang beliau inginkan. Setiap nasihat beliau adalah suatu kekuatan luar biasa dalam jiwa ini. Semoga terus mengalir sampai kapanpun. Abuya, maafkan nanda jika banyak membuat luka di hati Buya.
Itulah awal mengapa ku suka menulis. Walau tulisan itu tak indah sekalipun. Walau tulisan itu tak bermakna sekalipun. Walau tulisan itu tak terbaca siapapun. Walau tulisan itu tak pernah di lirik sekalipun. Namun, yang kurasakan ketika menulis adalah sebuah kekuatan luar biasa, sebuah kepuasan yang tak ternilai, betapa Allah sungguh menyayangi ku dengan segala nikmatNya.


By : Izzati Ruba’ie
Saat ini dan seterusnya adalah hanya ingin melihatmu tersenyum, bahagia  ,Abi.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar