Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ANAK SINGKONG



“Bang, gorengan singkongnya 3000, dibungkus ya!”, salah seorang pembeli menghampiri gerobak hijau di sudut pasar itu. Tak ada yang spesial dari gorengan singkong milik pak Mamat ini. Hanya saja musim hujan ini mungkin sangat pas untuk makan yang hangat-hangat, seperti singkong goreng misalnya, sehingga dagangan pak Mamat lebih ramai dari biasanya. Hujan seakan mengguyur gerobak pak Mamat dengan rezeki yang melimpah.

Le, sini! Ini ada rencekan singkong goreng, buat jajanmu ”, Pak Mamat memanggil salah seorang bocah lelaki yang sering bermain-main di sekitar gerobaknya ketika sedang berjualan dan memberikan rencekan singkong goreng yang tak dijual. “Terimakasih pak, rencekannya enak”, jawab bocah lelaki itu menerima pemberian pak Mamat sambil berlalu kembali bermain bersama teman-temannya. Tak pernah ia lupa memberikan rencekan gorengan singkong pada bocah lelaki yang kerap kali bermain di sekitar gerobak dagangannya. Baginya, ia sangat bersyukur bisa memberi, menyisipkan kebahagiaan di hati bocah lelaki itu yang tak pernah terlihat  membawa  jajan seperti teman-temannya yang lain.
Dengan begitu setianya pak Mamat menyambut rezeki di sudut pasar itu, menjalani hari-harinya untuk memperjuangkan kelangsungan hidup keluarganya ditengah kerasnya hidup di tanah perantauan. Jakarta, ibu kota yang telah menjadi saksi perjuangannya hingga kini 20 tahun lamanya setia menyambut rezeki di sudut pasar itu.
Pada suatu malam, seperti biasanya pak Mamat tetap menjalani aktifitasnya sebagai penjual singkong goreng. Malam itu tak seramai biasanya, meski musim hujan datang. Usianya yang kini tak muda lagi tak menyurutkan langkahnya untuk tetap bersemangat dalam menyambut rezeki. Sambil menunggu pembeli yang datang, pak Mamat membungkus rencekan singkong goreng yang akan diberikan kepada tukang parkir yang sering mengajaknya ngobrol di sela-sela aktifitasnya. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan gerobak dagangannya, seorang pemuda turun dari mobil  dan menghampiri gerobak dagangan milik pak Mamat. “Pak, rencekan singkongnya ada?”, tanya pemuda itu. Pak Mamat merasa aneh, karena rencekan singkong itu tidak untuk dijual. Itu hanya sisa-sisa rontokan singkong goreng yang biasa ia berikan anak-anak kecil yang biasa main di pasar, tukang parkir, atau bahkan dibawa pulang lagi untuk dimakan sendiri. “Yang masih bagus dan hangat masih banyak kok nak, kenapa mencari yang rencekan?”, tanya pak Mamat kepada pemuda itu. “Saya rindu rencekan singkong goreng bapak. Enak sekali. Boleh saya merasakannya lagi?”, jawab pemuda itu. Pak Mamat merasa bertambah heran dengan kehadiran pemuda bermobil mewah itu. “Dulu waktu saya kecil, saya sering mendapat rencekan singkong goreng dari sini, meski saya tak pernah punya uang untuk menjajan, saya sangat bahagia mendapat rencekan singkong goreng dari bapak. Itu yang memotivasi saya untuk bisa memberi suatu saat nanti, terimakasih banyak bapak”, ucap pemuda bercerita tentang masa lalunya itu, meyakinkan, sampai-sampai pak Mamat tertegun mendengarnya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir pak Mamat, rasa heran masih menyelimuti benaknya. “Itu hanya rencekan singkong goreng yang tak dijual”, gumamnya dalam hati. Dengan segera pemuda itu menjabat tangan pak Mamat sambil berkata, “Pak, maukah bapak menemani saya berhaji tahun ini?”. Ucapan pemuda itu menambah keterkejutan pak Mamat yang belum mereda rasa herannya. Seketika pak Mamat memeluk pemuda sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu tanpa berkata sambil meneteskan air mata penuh haru.
Subhanallah, indahnya berbagi dengan tulus di hati. Tak merasa memberi, namun terasa berarti. Itu balasan ucapan syukur dari sesama manusia, apalagi balasan dari Sang Maha Pemberi lagi Maha Mensyukuri.



“Kisah ini merupakan ilustrasi yang penulis angkat menjadi sebuah cerpen, terispirasi setelah membaca status  FB milik KM Zamahsyari Yasin pada tanggal 26 Oktober 2013 , beliau bercerita perihal kisah tersebut. Penulis sangat tertarik untuk membuat cerpen dari kisah tersebut.semoga bermanfaat…”
 



Malang, 26 Oktober 2013
Ninis Nofelia


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar