Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Seindah Kisah Yusuf dan Zulaikha


Malam telah lelah bertugas. Kini  pagi bergegas menemani insan dunia. Perlahan lahan mentari menampakkan wajahnya, burung burung bernyayi sambil bertebangan kesana kemari. Rumput rumput menari-nari mengikuti irama angin pagi. Bukan hanya malam yang hendak beristirahat,  jangkrik dan kunang kunang  yang  selalu  menemani malam berjaga telah tergantikan oleh ayam yang sibuk mengisi perutnya yang kosong. Kerbau  dan sapi berjalan anggun menuju panggung lempung.  Pagi ini tampak syahdu, awan dan matahari bemesraan, menyatu hingga menghasilkan atmosfer yang hangat memeluk ragaku.
 Seluruh penjuru pondok pesantren  mulai bising dengan beberapa aktivitas. Pagi indah mengiringi semangat yang membara tuk mengawali hari. Seluruh santri dan santriwati mulai mempersiapkan diri untuk bergegas  tholabul ilmi. 
 Inilah hari hariku, hidup diantara orang orang yang jihad fii sabilillah membuat hidupku   seakan selalu berwarna dan tak pernah merasa sepi. Suka dan duka , canda tawa tertuang menjadi satu. Hari ini segala aktivitas sudah terprogram dalam otakku. Mulai dari bangun pagi hingga ku hendak terlelap nanti. Setelah mandi dan mempersiapkan diri bergegas ku langkahkan kaki menuju majelis tempatku menimba ilmu.
Namun dipertengahan jalan,  langkahku harus terhenti karena kudengar  abah memanggilku. Dengan segera ku langkahkan kaki menghampiri pahlawan dalam hidupku.
“Nduk...Ainiatut tasnim, kesini sebentar” panggil abah kepadaku sambil membawa secangkir kopi dan tak lupa korannya.
“ Nggeh bah, sendika dhawuh” jawabku dengan halus dan wajah tertunduk.
“ Ainiatut tasnim, putri abah duduk sebentar, abah hendak berbicara kepadamu” lanjut abah
“ Begini nduk, kemarin ada seseorang yang hendak mengkhitbahmu, dia putra dari Kiai Abdulloh Rozak Pesantren Salaf  Babussalam di Porong sana, Namanya Muhammad  Zein Al-Kafabi.  Nah abah ini sudah sepuh nduk, abah  pengen melihat puti abah yang  ayu ini mendirikan bahtera rumah tangga sendiri, bagaimana nduk menurutmu ? tambah abah
Sontak, seluruh jiwa dan  ragaku menjadi  kacau balau, tubuhku lemas tak berdaya mendengar keinginan abah. Dengan terbata-bata ku jawab keinginan abah tersebut.
“Ng-ng-ggee Bb-bah, beri kesempatan tasnim untuk beristikhoroh dulu sebelum menjawab” Jawab ku
Setelah mendengar kabar yang mengejutkan, ku lanjutkan aktivitasku. Ku melangkahkan kaki  menuju kelas dengan  kaki tak berdaya. Di dalam kelas, seluruh jiwa ku seakan tak dapat lagi berfungsi, otak seakan buyar tak dapat lagi berfikir, nadi seakan berhenti berdenyut, fikiranku melayang entah kemana.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB bunyi bel terdengar  hingga pangkal telingaku. Tak dapat lagi ku melanjutkan aktivitas.  Sejenak merebahkan tubuh  membuatku teringat kenangan indahku
Bukan tak ingin menolak keinginan Abah,  namun saat ini ku sedang terpaut hati dengan pemuda rupawan pemilik setitik ketampanan Nabi Yusuf. Entah dari pertambangan mana ia berasal. Melihatnya seakan ku  tak ingin segera memalingkan wajah. Wajahnya bagaikan sinar yang menyinari relung jiwa. Emosi dan rasionalitas seakan sirna ketika memandangnya. Tutur kata yang sopan mengiringi akhlaknya yang mulia. Dia bagaikan mawar yang yang tumbuh di hati dan menebarkan semerbak pesona cinta.
Kisahku berawal ketika mendengarkan kisah dari  ustadzah khamsah tentang pemuda tampan dari keluarga Nabi Ya’qub  yang diangkat oleh Allah menjadi seorang nabi.  Beliau adalah nabi Yusuf, yang sejak kecil selalu membuat saudaranya iri akan ketampanan dan akhlaknya yang mulia. Berbagai cobaan telah beliau alami selama hidupnya. Hingga bertemu dengan Zulaikha, istri Al-Aziz, yang juga menjadi korban ketampanan Nabi Yusuf.  Cobaan dan rintangan cinta mereka  lalui bersama hingga kisah ini berakhir indah.
Beberapa buku tentang kisah Yusuf dan Zulaikha telah khatam ku baca hingga surat Yusuf dalam al-quran menjadi ritual wajibku. Namun terdapat satu buku yang sedang ku baca saat ini. Buku ini berjudul “ Cinta Kontroversi Yusuf dan Zulaikha karangan Molla Nuruddin Jami’  Namun ketika sedang asyik membaca,  Nadia  sahabatku berlari sambil memanggilku dengan suara lantang hingga membuat kosentrasiku buyar.
“Neeeeeeeeeeeeeeengggg......Neeenggg Tasniimmmm. Huuuhhh-huhhhh-huhhhhhhh” sapa Nadia disertai suara tersenggal senggal
“ ada apa siih Naddd,, kok sampai lari larii” jawabkuu
“Neeeenggggg ada ustad badal pengganti ustad ahmad, cakeeeeeeeeeeep sekali pasti ning tasnim terpikat olehnya“ laaa truuuusss? Kamu ituu kalo udahhhh liat cowok cakepp selaluuu ajahh lebayyy”jawabku
“yang ini beda niiinggg, dia cakepppnyaa minta ampppuuuunnn deee”  lanjut Nadia
“ ya suddaahh mana tooohhh ustad yang kamu lihat, awas yaa kalo ndak cakep, tak jewer pipimuu”
Karena penasaran,  terpaksa ku turuti keinginan Nadia. Segera ku langkahkan kaki menuju kelas 3 diniyah tempat ustad badal mengajar. Karena takut ketahuan, Nadia menyuruhku mengintip lewat jendela kelas.
“ Dasaaaar tukang bohong!!!!!! Mana ustadnya???” kesalku sambil mengintip jendela kelas.
Tiba-tiba terdengar suara asing yang mampir di gendang telingaku.
“ ehhmm..ehm..madza ta’malin ukhty?” sapanya  disertai
Spontan ku memalingkan wajah menuju asal suara. Hati ini seakan berhenti berdetak ketika memandang wajahnya yang rupawan. kaki membeku dan sulit tuk digerakkan. Akhlaknya   bagaikan pohon yang rindang membuat sejuk orang disekitarnya. Postur tubuh yang ideal seakan melengkapi kesempurnaannya. suaranya halus sehalus sutera, matanya elok dan indah dipandang.  Harum Parfumnya  semerbak, menyebar, dan  menyatu di udara. Senyumannya mirip dengan bulan sabit yang bersinar di keheningan malam. Kulitnya yang halus membuat duri enggan menyentuhnya.
“ Astaghfirullaaaaaaaaaahhhh....afwan ustad”. Jawab ku ketika tersadar dari lamunanku
Lalu ku raih tangan Nadia dan berlari secepat mungkin menghindari nafsu yang berkobar dalam fikiranku.  Seketika itu kisah indahku dimulai. Awal dari sebuah cintaku. Hari demi hari sosok tampan itu mengukir  indah sejarah  di pondok. Tampil dengan wajah santun dan rupawan membuat jantungku seakan berdegup cepat ketika bertemu dengannya. Rindu selalu menghampiri disetiap malamku. Wajahnya selalu menghiasi bunga tidurku. Sehingga ku tak ingin matahari segera terbangun tuk membuka mataku. Bahagia, menangis, cemburu ku dibuatnya. Entah setan apa yang selalu merasukiku dan menggoda hidupku. Sungguh indah ciptaan Allah.

Kedatangannya tidak hanya memberi kebahagiaan dalam hidupku. Gundah  gulana juga selalui merasuk dalam kalbuku. bagaimana tidak tiap bertemu dengannya, bom atom seakan terlempar, mendarat tepat di hati dan menghancurkan perasaanku. Ketika itu Aku, Nadia dan teman teman yan lain hendak berangkat diniyah namun ketika di persimpangan jalan.
“Ukhty...ukhty... ada ustam ahmad....” kata nadia dengan hebohhh kepada teman teman
“ustam?!?!!?!? Apaaan tuhhh?”   batinku dalam hati sambil membaca buku
“ mana...mana...mana?!?!!?!?!?!?!!?” lanjut kehebohan teman teman yang lain
“ tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhh” lanjut nadia sambil menunjuk ke arah ustad
Karena penasaran yang membelenggu tak dapat lagi ku bendung, akhirnya ku bertanya kepada Nadia dan teman-teman..
“Ustam apaan ssih ?” tanya ku
180 o tatapan sinis tertuju kepadaku. Kebingungan semakin melandaku ketika mereka terdiam. Tiba tiba keheningan menjadi pecah ketika nadia tertawa akibat melihat wajah polosku.
“ hahahahah...neng..neng..makanya jangan buku aja yang di lihat” ejek nadia
“ ustam ituuuuuuuuuuuuuuu ustaaaaadddd tammmmm-ppp--an” jawab nurul temanku yang berada di samping Nadia
Belum sempat  meneruskan  pembicaraan tiba tiba ustad sudah berada tepat dihadapanku. Serentak teman teman mengucapkan salam seperti hendak paduan suara.
“ hahahahah....wa’alaikum salam, awwalan ukhti” jawab ustad sambil tertawa renyah
Seraya membalikkan salam, senyuman selalu beliau tampakkan. Kehebohan pun berlanjut ketika masing masing merasa di beri senyuman oleh ustad. USTAM????!!!!  Bahagia dan cemburu melanda perjalanan ku tadi . hari ku selalu seperti ini. Ku sendiri, menanggung rasa cinta yang menderu di kalbuku. Predikat anak kiai selalu menahanku untuk mengungkapkan  rasa cinta ku. Sakit sekali hati ini ketika memendam rasa rindu yang  tak kuasa ku bendung. Terjebak dalam rasa yang sulit untuk ku  tunjukkan membuatku tersiksa.
cinta ini  bagaikan angin yang dapat kurasakan namun tak dapat ku peluk erat”
***
Tak terasa air mata menetes, ketika mengingat keinginan Abah tadi pagi. air mata menggelinang membasahi tempat peraduanku. Seakan semuanya menjadi gelap tak ada sinar yang menyinari keadaanku saat ini. Diriku bak putri raja yang terkurung dikerajaan cinta. Air mata semakin tak tertahan ketika surat cinta yang tak sampai mengingatkan kisah pertamaku.

Assalamu’alaikum cinta...
Salam rindu teruntuk pemilik paras indah....
Salam sayang untukmu wahai senyum yang rupawan
Q bertemu dengan tatapan indah pagi ini..
Yang menusukku hingga kehati..
Yang menghipnotis ragaku hingga tak dapat lagi melihat warna warni kehidupan
Yang ku lihat hanyalah bayang bayang semu...
Keindahan Fatamorgana dunia...
Yang sering membuatku hanyut dalam belaian lembut sapanya..
Namun...
Dipagi ini...tatapan indah senyuman manis jiwamu
Membuatku melayang tanpa arah..
Rinduku..salam cinta dan sayangku ..
Kan q titipkan pada mentari lewat cahayanya..
Yang membuat pesan cintaku untukmu
Dalam ruang hampa tanpa cahaya..
Sosokmu menyinari sepiku..
Alunan kata lembutmu ...
Membuat hati dan jiwaku tak dapat memjamkan mata
Membara, menjerit..
Menghadapkan cahaya terang yang masuk lewat cela cela sempit
Membuatku sulit untuk menggapai secercah sinar yang membuat pahit menjadi manis...
                                                                                    By : Ainiyatut Tasnim
***                             
Ketika sedang jatuh cinta, tak peduli berbagai musim telah berlalu. Hidup seakan menjadi tawanan cinta. Tiada hari  tanpa memikirkannya.  Semenjak bertemu dengannya wajahnya selalu terbayang bayang dalam benakku. Menari nari dan menghiasi  indah bunga tidurku.
 “Ainiyatut Tasniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiimm.....!!!!” kesal ummi
Lamunan ku terbuyar ketika ku melihat sosok cantik nan lembut menghampiriku. Inilah ibuku, ibu yang selalu merawat dan menjagaku sejak aku kecil. Wanita paruh baya inilah yang mati matian melahirkanku sehingga dapat tumbuh dewasa. Dengan sabar dan ikhlas beliau merawatku. Tanpa mengenal lelah beliau menjagaku.
“ummi.....” jawabku
“ owalah ndukk..sudah dari tadi ummi ini memanggilmu, kog ya ndak dateng dateng” kesal ummi
Kamarku memang berada di lantai dua, karena suara ummi terlalu lembut sehingga membuat angin tidak dapat mengantarkan  suara ummi menuju gendang telingaku
 “ngapunten  ummi, tadi tasnim tidak dengar “ jawabku
 “ ya suddahhhh...ini diminum dulu susunya” lanjut ummi
Ummi memang ibu yang nomor satu di dunia. Beliau tak pernah lelah memberi perhatian kepada anaknya.  Setelah minum susu, ku rebahkan tubuhku, aku letakkan kepalaku  dipangkuannya. Ummi memandangku sambil mengelus  elus rambutku. Wajahnya halus, pandangannya tajam dan penuh kasih sayang. Nampak matanya bersinar karena air menggelinang di pelupuk matanya. Entah apa yang membuatnya berkaca-kaca. Sesekali ummi mencium keningku dengan kecupan penuh cinta.
“ kamu sudah besar nduk. Tidak terasa waktu berjalan cepat sekali, kayak baru kemarin ummi mengandung dan melahirkanmu dan abah memberimu nama Ainiyatut tasnim. Eeehh sekarang sudah besar putri ummi,, cantik lagi ” ummi  memujiku
“ siapa dulu ummiiiiiiiiiiiiiiiiiiinya. Anaknya cantik karena ibunya juga cantik ummi” balasku
Suasana menjadi cair ketika kita saling melempar pujian. tiba tiba ku mengajukan pertanyaan yang membuatku sedikit gugup
“ Ummiii,,ustad yang baru cakep yyahh, siapa ssiih itu ummi?”  Tanya ku dengan terbata-bata
“Yang mana ssiiihh sayang??? Kok ummi tidak tahu???”  Jawab ummi
“Iiiiihhh ummii masak ummi ndak tahu, padahal seluruh asrama putri gempar sejak kedatangannya”kesalku
“Masak siiihh?????kog ummi ndak tahuuu yya ???? lanjut ummi
 “itu tuh ummi yang menggantikan ustad Ahmad mengajar, masa ndak tahu” jawabku
“ ohhhh ituuuuu......”
“Ummmmmiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii’’’’’’’, ada tamu” panggil abah dengan jelas
Tak sempat menjawab tiba tiba terdengar suara lantang memanggil ummi. Dengan segera ummi membalas sahutan abah
“ Nggeeehhh bahhhhhhh, tunggu sebentar” sahut ummi 
“ Sebentar yya tasnim, ummii mau ke abahmu dulu nanti abahmu marah kalo ndak segera ditemui “   
 “fiuuuuuuhhhhhhhhh...” gerutuku dalam hati.
Rasa penasaran semakin menjelma, hati ini seakan menjadi pilu dibuatnya. Keheningan semakin menjalar beriringan rasa penasaranku. Tak kuasa ku merasakan kepiluan ini,  ingin segera ku bertanya kepada ummi siapa namanya. Namun, ketika berada di ruang bawah, ummi dan abi tak henti hentinya tersenyum setelah menerima tamu tadi.
“ ummi ada apa ssih kog kayaknya senang sekali? Bisikku pada ummi
“ besokkk abbahmu yang beri tahu ndukk, pasti kamu senang mendengar kabar ini “ jawab ummi dengan suara lantang
“iyya tasniiim, besok aja abbah beritahu, sekarang sudah malam nduk, segera kamu tidur, agar besok tidak terlambat belajar.
“ Ngge bbah” jawab ku sambil menundukkan kepala
***
Kepada siapa ku kan berbicara...
Menahan rasa yang membuatku tersiksa...
Bahagia namun  menderita..
Itulah yang kurasa....
Inikah kabar yang kemarin abbah janjikan??? Mawarku  telah layu dan tak lagi mekar seperti biasanya. Resah  dan gelisah  menyelimuti hari hariku. Manakah Yusuf yang akan menemani hari hariku kelak. Berjam jam ku meratapi kesedihan yang tak kunjung berhenti  Kamar indahku kini berganti menjadi  lautan tissue yang tercecer dimana-mana. Menolak atau menerima, jujur atau berbesar hati??? Itulah pertanyaan yang terngiang ngiang dalam otakku untuk menjawab permintaan abbah  tadi pagi.
Hari berganti hari, Awan hitam tak kunjung merekah, kesedihan kembali datang ketika wajah  rupawan itu tak dapat lagi ku lihat, Ustad ahmad yang dulu mengambil  cuti kini telah kembali mengajar, kini mahkota cinta tak lagi menunjukkan tampangnya kembali. Datang dengan membawa ceria namun pulang membawa duka.  Hidupku bagaikan ombak yang terombang ambing.
Duhai cintaku permata hatiku..
Cintamu bagaikan duri yang menyusup di hatiku...
Bagaikan memori  yang tak akan hilang hingga ku menutup mata
Cintamu telah tertanam dalam lubuk hati ini.....
Hari demi hari cinta ini tumbuh...
Semula hanya berupa tunas kini cinta itu kokoh dalam relung hatikku...
Melihatmu bagaikan pupuk yang mengokohkan  cinta dihatiku....
Hingga mata ini tak ingin berkedip walau hanya sekedipan mata...
Senyummu adalah matahari untuk fotosintesis cintakuu
Membayangkanmu seakan ku sirami cintaku agar tak layu
Indah parasmu sudah menghipnotis seluruh jiwaq....
Hingga tak dapat henti hentinya membayangkamu...
Namamu selalu terucap dibibir ini....
Cinta....
Akankah cinta ini berbuah manis....
Ataukah cinta ini hanya bayangan semu semata.....
Tuhan...
Jika kelak q tak dapat melangkahkan kaki bersamanya..
Dan genggaman tanganya  tak dapat  di persembahkan untukku
Namun,, izinkan cintaku tetap abadi bagaikan cinta suci Yusuf dan Zulaikha
Lama ku larut dalam buaian cinta, terpesona oleh wajah  rupawan hingga melupakan dzat yang menjadikan. Ku tutup kisah yang mambuatku tersiksa, ku terima pinangan yang terdampar di kepulauan cinta. Namun alangkah tak disangka waktu seakan berlangsung cepat, teka teki misteri   kini telah terjawab. Muhammad  Zein Al-Kafabi adalah ustad cinta yang membimbingkku menggapai sunnah seperti kisah Yusuf dan Zulaikha 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar